Rabu, 19 September 2018

INTERPRETASI TEKS ESKPOSISI


MENGINTERPRETASI MAKNA DALAM TEKS EKSPOSISI
Teks eksposisi adalah jenis teks yang digunakan untuk menyampaikan pendapat tentang suatu permasalahan dengan menyajikan argumen/pendukung berupa bukti, contoh, atau alasan yang logis. Eksposisi biasa digunakan seseorang untuk menyajikan gagasan. Gagasan tersebut dikaji oleh penulis atau pembicara berdasarkan sudut pandang tertentu.
Penulis atau pembicara harus menyertakan alasan-alasan logis untuk menguatkan gagasan yang disampaikan, Dengan kata lain, ia bertanggung jawab untuk membuktikan, mengevaluasi, atau mengklarifikasi permasalahan tersebut. Bentuk teks ini biasa digunakan dalam kegiatan ceramah, perkuliahan, pidato, editorial, opini, dan sejenisnya. 
Tujuan teks eksposisi: menjelaskan informasi tertentu agar bisa menambah ilmu pengetahuan pembaca, sehingga dengan membaca teks ini maka pembaca akan mendapatkan pengetahuan secara rinci dari suatu hal atau kejadian.

Manfaat teks eskposisi:
-          Mengetahui informasi
-          Memperluas wawasan dan menambah pengetahuan
-          Dapat memilah-milah informasi yang akurat

Struktur Teks Eksposisi
·         Tesis yaitu pengenalan isu, masalah ataupun pandangan penulis secara umum tentang topik yang akan dibahas. Terdapat pada paragraf pertama kalimat pertama.
Contoh:
Jika Pemerintah tidak cepat bertindak dalam sepuluh tahun mendatang, hutan Sumatra akan musnah. Hilangnya hutan Sumatra akan diikuti oleh musnahnya hutan Kalimantan.
(Judul Teks: Nasib Hutan Kita Semakin Suram)

·     Argumen: bagian yang memuat alasan yang bisa memperkuat argumen penulis dalam memperkuat ataupun menolak suatu gagasan yang disertai dengan bukti, contoh, atau alasan yang logis. Terdapat pada paragraph kedua dan ketiga.

Contoh:
Di Pulau Sumatera berdasarkan titik kebakaran terjadi di hutan rawa gambut sebanyak 49%, alang-alang 13%, hutan dataran rendah 10%, permukiman/pertanian masyarakat 10%, perkebunan 8%, dan sisanya rawa (non gambut). Kebakaran hutan memberikan kerugian tidak sedikit. Tahun 1997 diperkirakan kerugiannya sebesar $3-$4,4 miliar atau sekira Rp 2-4 triliun.

·        Rekomendasi: perumusan kembali secara ringkas. Biasanya bagian ini disebut dengan penutup atau simpulan. Terdapat pada paragraf terakhir, yang mengulang tesis tetapi tidak secara langsung.
Contoh: Pada kalimat Rupanya kedua masalah itu belum cukup. Kata “itu” menunjukkan masalah yang dibahas pada tesis.

Ciri-Ciri Teks Eksposisi
·         Gaya bahasa bersifat informatif
·         Berbasis pada fakta
·         Penyampaian teks jelas, lugas, baku
·         Tak memihak, yang berarti tak memaksakan kemauan penulis pada pembaca
·         Memberikan pengetahuan baru
·         Bersifat netral dan objektif

TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI



Langkah-langkah Membuat Teks Laporan Hasil Observasi

1.      Tentukan tema kegiatan observasi
2.      Tentukan tujuan observasi
3.      Melakukan proses observasi.
4.      Menyusun kriteria aspek yang harus dilaporkan. Setelah melakukan observasi dan mendapatkan data-datanya, kita harus menyusun kriteria aspek yang akan dibahas, dideskripsikan dan dilaporkan dalam teks laporan hasil observasi.
5.  Membatasi aspek yang harus dilaporkan. Kita harus membatasi aspek apa saja yang harus dilaporkan, agar tidak keluar dari tujuan yang sudah dibuat.
6. Mulai mendeskripsikan unsur-unsur yang dijelaskan sesuai aspeknya. Dimulai dengan mendefinisikan atau mengartikan aspek yang dipilih berupa pernyataan umum. Jangan lupa untuk menggunakan kaidah kebahasaan kalimat definisi.
7.     Melengkapi teks laporan hasil observasi dengan data dan gambar. Setelah dibuat definisi aspek yang dipilih, tambahkan data-data yang didapatkan dari hasil observasi bisa berupa gambar atau data yang berupa angka yang menunjukkan suatu ukuran. Jangan lupa gunakan kaidah kalimat simpleks dan kompleks, konjungsi, sinonim, dan antonim.
8.    Membuat simpulan hasil observasi. Setelah dilengkapi dengan data dan gambar, kita bisa membuat kesimpulan dari hasil observasi yang telah kita lakukan.

Kaidah Kebahasaan Teks Laporan Hasil Observasi
1. Menggunakan kalimat definisi
Biasanya terdapat kata adalah pada pernyataan umum yang menyatakan pengertian atau definisi dari aspek yang akan dibahas.
Contoh : Kemangi atau disebut basil adalah dedaunan kecil yang memiliki aroma khas dan lembut dengan sentuhan aroma limau...

2. Menggunakan konjungsi atau kata hubung
Biasanya konjungsi yang digunakan adalah kata hubung antar kata seperti dan, atau, yang, untuk, dengan, dan sebagainya.
Contoh : Kemangi atau disebut basil adalah dedaunan kecil yang memiliki aroma khas dan lembut dengan sentuhan aroma limau...

3. Menggunakan kalimat simpleks dan kalimat kompleks
  • Kalimat simpleks adalah kalimat yang menggunakan satu verba dan menyatakan aksi (peristiwa atau keadaan) atau biasanya disebut kalimat tunggal.
Contohnya : Setelah dingin, kembali peras-peras daun kemangi.
  • Kalimat kompleks adalah kalimat yang terdiri dari dua struktur atau lebih dengan dua verba.
Contohnya : Kemangi dapat disulap menjadi toner yang bisa digunakan sebelum tidur setelah wajah dicuci bersih.

4.  Menggunakan sinonim dan antonim
Biasanya terdapat sinonim atau antonim dalam satu kalimat atau satu paragraf.
Contoh antonim : Kemangi dapat disulap menjadi toner yang bisa digunakan sebelum tidur setelah wajah dicuci besih
Contoh sinonim  : Kemangi berguna sebagai salah satu daun yang sangat berpengaruh pada kesehatan, seperti vitamin A, B, dan C yang memberikan manfaat bagi tubuh.

5.  Menggunakan data
Data yang ada biasanya berupa angka yang pasti untuk menunjukkan ukuran suatu bahan yang digunakan.
Contoh : Bahan yang digunakan adalah 100 gr daun kemangi dan 200 ml air panas





 

Buku Kerja Guru


Berikut perangkat pembelajaran bahasa Indonesia kelas X Semester ganjil.
1.  Kelender Pendidikan Aceh 2018/2019  Download 
2.  Alokasi Waktu
3.  Analisis KKM
4.  Program Tahunan
5.  Program Semester
6.  RPP 3.1-4.2
7.  RPP 3.3-4.4
8.  RPP 3.5-4.6
9.  RPP 3.7-4.8
10. RPP 3.10-4.11
11. RPP 3.12-4.13
12. RPP 3.14-4.15
13. RPP 3.16-4.17
15. Silabus

Senin, 12 Februari 2018

TEKS BIOGRAGI (PENGERTIAN, CIRI, STRUKTUR)

Link Download:
https://drive.google.com/open?id=1wptMa-QwUTpRDZURlCYOJ7seRiC8fXC3

PENGERTIAN TEKS BIOGRAGI


Biografi berasal dari bahasa Yunani, bios yang memiliki arti hidup dan graphien yang berarti tulis. Biografi merupakan sebuah tulisan yang membahas tentang kehidupan seseorang. Secara sederhana, biografi dapat diartikan sebagai sebuah kisah riwayat hidup seseorang. Biografi sendiri dapat berbentuk hanya beberapa baris kalimat saja, tetapi biografi tersebut dapat lebih dari 1 buku.
Biografi singkat hanya menjelaskan tentang fakta-fakta dari kehidupan seseorang serta peran pentingnya. Biografi panjang meliputi informasi-informasi yang bersifat penting tetapi dikisahkan dengan lebih mendetail serta dituliskan dengan gaya cerita yang baik.
Biografi merupakan sebuah buku yang menceritakan kejadian-kejadian hidup seseorang. Lewat biografi tersebut dapat ditemukan hubungan, keterangan arti dari sebuah tindakan tertentu atau sebuah misteri yang melingkupi hidup seseorang, dan juga merupakan sebuah penjelasan mengenai tindakan atau perilaku dalam hidupnya.
Biografi dapat bercerita mengenai kehidupan seorang tokoh penting atau terkenal maupun tidak terkenal. Biografi seringkali bercerita mengenai tokoh sejarah, tetapi tak jarang juga mengenai orang yang masih hidup. Banyak biografi sekarang ini yang ditulis secara kronologis. Biografi membutuhkan bahan bahan utama serta bahan pendukung. Bahan utama dapat berupa benda-benda, misalnya buku harian, surat surat, kliping koran, dan sebagainya. Bahan pendukung biasanya berupa biografi lain, buku referensi, sejarah yang memaparkan peranan orang dalam biografi tersebut dan sebagainya. Biografi adalah suatu kisah atau keterangan dari perjalanan kehidupan seseorang yang bersumber pada subjek rekaan atau kisah nyata.

       

CIRI-CIRI TEKS BIOGRAFI

Berikut ciri-ciri biografi: 
1.    Biografi memiliki struktur yang terdiri atas : orientasi, peristiwa atau masalah, serta reorientasi.
2.    Biografi memuat berdasarkan informasi fakta serta disajikan dalam bentuk narasi.
3.    Faktualnya (fakta) berdasarkan pengalaman hidup seseorang yang diceritakan dalam tokoh biografi tersebut.

Empat hal yang harus dicermati dalam teks biografi, yaitu: 
1.    Judul biografi
2.    Hal yang menarik serta mengesankan yang ditampilkan dalam kehidupan tokoh yang diceritakan
3.    Hal yang mengagumkan serta mengharukan yang muncul dalam kehidupan tokoh yang diceritakan
4.    Hal yang dapat dicontoh atau diteladani dari kehidupan tokoh

STRUKTUR BIOGRAFI
Berikut struktur teks biografi yang terdiri dari orientasi, peristiwa dan masalah, reorientasi:
1.   Orientasi
Orientasi merupakan bagian dimana menjelaskan tentang pengenalan tokoh, berisi gambaran awal tentang tokoh yang diceritakan dalam biografi tersebut.
2.   Peristiwa dan Masalah
Bagian peristiwa atau kejadian merupakan bagian yang berisi tentang sebuah peristiwa atau kejadian yang pernah dialami, termasuk didalamnya memuat tentang masalah yang pernah dihadapinya dalam mencapai tujuan serta cita-citanya. Hal-hal yang menarik, mengagumkan, mengesankan, dan mengharukan yang pernah dialami tokoh juga diuraikan dalam bagian ini.
3.   Reorientasi
Reorientasi merupakan bagian penutup. Bagian ini berisi tentang pandangan penulis terhadap tokoh yang diceritakan tersebut. Reorientasi bersifat opsional, yang artinya pada bagian ini boleh ada atau tidak.
                                                            

Senin, 05 Februari 2018

Link download BSE Bahasa Indonesia X SMK K-13 Revisi
https://drive.google.com/file/d/1ZW1Y5Ig_KxWOSdP8BlnauYbSFxeBQP6E/view?usp=sharing

Tata Cara Debat dan Contohnya

sumber:
https://www.youtube.com/watch?v=3SMxYKalAKY&t=12s
https://www.youtube.com/watch?v=AgFvPapaWHA

Rabu, 04 Juni 2014

Case Study (Mei '14)



Kebimbangan Menerpa Pengetahuan
 
Kini masa PPL telah berjalan empat bulan. Hari-hari saya selama melaksanakan program praktik ini dipenuhi dengan segala pengetahuan baru. Sebagian pengetahuan itu saya dapatkan melalui kesalahan-kesalahan yang tanpa sadar saya lakukan baik dalam kegiatan teaching maupun non-teaching. Di bulan ke-4 PPL ini tepatnya pada bulan Mei, saya kembali melakukan kesalahan. Namun, kali ini bukan dalam mengajar, tetapi dalam kegiatan tidak mengajar, yaitu di saat saya menyiapkan bahan untuk evaluasi hasil di semester genap ini. Dari kesalahan yang saya perbuat terkadang saya merasa bingung dan ragu apakah yang saya lakukan itu suatu kesalahan atau bukan, karena fenomena yang saya jumpai selama PPL tidak jarang berbeda dengan teori-teori yang saya pelajari di kuliah. Istilah lainnya implementasi di lapangan tidak selalu sesuai dengan teori yang ada dan terkadang pengetahuan yang saya dapatkan dari dosen, berbeda dengan apa yang diajarkan oleh pamong saya. Contohnya saja pada kesalahan yang saya lakukan ketika membuat soal ujian semester ini. Ada kesalahan yang memang saya paham dan yakin bahwa ini adalah murni kesalahan saya, tetapi di lain sisi juga ada sebuah kesalahan yang memang divonis langsung oleh pamong pada saya, tetapi saya tidak yakin apakah hal tersebut memang salah. Berikut ini ilustrasinya.
Tepatnya tanggal 22 Mei 2014 mendatang, para siswa kelas VII dan VIII akan mengikuti ujian akhir atau ujian kenaikan kelas. Di saat ini pula saya mulai sibuk menyiapkan bahan untuk dites pada para siswa guna mengukur tingkat pemahaman mereka terhadap meteri yang selama ini saya ajarkan, sekaligus sebagai syarat untuk kenaikan kelas. Soal sudah saya siapkan tiga minggu sebelum diadakannya ujian tersebut. Soal-soal itu saya buat dengan berbekal pengetahuan yang saya dapatkan dari bangku kuliah. Tidak hanya dari segi materi, tetapi dari mulai menyusun soal hingga menentukan alternatif jawaban disertai dengan jawaban pengecoh (karena soal berupa pilihan ganda) saya buat berdasarkan pemahaman dan pengetahuan saya. Perkiraan saya terhadap soal yang saya buat itu sudah benar dan sesuai karena saat soal-soal itu saya serahkan pada pamong, beliau tidak berkomentar setelah melihat soal yang saya buat. Namun, ternyata praduga saya salah. Saat beberapa dari soal-soal tersebut dites pada siswa sebagai ulangan harian, pamong saya berkata  bahwa terdapat beberapa soal yang tidak semestinya diajukan untuk anak sekolah, yaitu soal-soal yang terdapat kata “yang bukan”. Misalnya, “berikut ini yang bukan ciri-ciri cerpen adalah”, beliau berkata seharusnya ketika membuat soal untuk diuji pada anak-anak gunakan pertanyaan yang ‘sebenarnya’. Ada sekitar enam dari lima puluh soal yang menggunakan kata “yang bukan” dan “kecuali”. Saya menyadari mungkin memang terlalu banyak pertanyaan yang menjebak dari soal yang saya buat dan itu merupakan suatu kesalahan. Namun, saya masih ragu dengan apa yang dikatakan pamong saya bahwa soal-soal yang terdapat kata “yang bukan” dan “kecuali” itu tidak boleh diberikan pada siswa. Pada kenyataannya sering saya jumpai pertanyaan-pertanyaan yang menggunakan kata-kata tersebut di buku-buku bahan ajar, tetapi sebaliknya pamong saya langsung mengatakan “tidak boleh diberikan untuk anak sekolah”. Mungkin untuk yang satu ini perlu saya cari tahu kembali dengan bertanya ke sumber lain atau memperbanyak membaca buku-buku yang berkaitan dengan penyusunan soal atau mengenai evaluasi dalam pembelajaran. Namun meskipun demikian, saya tetap bersyukur karena dengan adanya kebingungan ini saya dapat lebih termotivasi dalam mencari tahu segala hal yang membuat saya bimbang dan dengan diberikan tugas oleh pamong untuk membuat soal sebanyak lima puluh soal, pengetahuan dan keterampilan menulis saya semakin terasah. Selain itu juga terbesit rasa senang di hati karena dengan dilimpahkannya tugas menyusun soal berarti pamong saya telah menyerahkan kepercayaannya pada saya sebagai calon guru.