Berikut perangkat pembelajaran bahasa Indonesia kelas X Semester ganjil.
1. Kelender Pendidikan Aceh 2018/2019 Download
2. Alokasi Waktu
3. Analisis KKM
4. Program Tahunan
5. Program Semester
6. RPP 3.1-4.2
7. RPP 3.3-4.4
8. RPP 3.5-4.6
9. RPP 3.7-4.8
10. RPP 3.10-4.11
11. RPP 3.12-4.13
12. RPP 3.14-4.15
13. RPP 3.16-4.17
15. Silabus
Rabu, 19 September 2018
Buku Kerja Guru
Diposting oleh
Unknown
di
04.08
0
komentar
Senin, 12 Februari 2018
TEKS BIOGRAGI (PENGERTIAN, CIRI, STRUKTUR)
Link Download:
https://drive.google.com/open?id=1wptMa-QwUTpRDZURlCYOJ7seRiC8fXC3
PENGERTIAN TEKS BIOGRAGI
Biografi berasal dari bahasa Yunani, bios yang memiliki arti
hidup dan graphien yang berarti tulis. Biografi merupakan sebuah tulisan yang
membahas tentang kehidupan seseorang. Secara sederhana, biografi dapat
diartikan sebagai sebuah kisah riwayat hidup seseorang. Biografi sendiri dapat
berbentuk hanya beberapa baris kalimat saja, tetapi biografi tersebut dapat
lebih dari 1 buku.
Biografi singkat hanya menjelaskan tentang fakta-fakta dari
kehidupan seseorang serta peran pentingnya. Biografi panjang meliputi
informasi-informasi yang bersifat penting tetapi dikisahkan dengan lebih
mendetail serta dituliskan dengan gaya cerita yang baik.
Biografi merupakan sebuah buku yang menceritakan
kejadian-kejadian hidup seseorang. Lewat biografi tersebut dapat ditemukan
hubungan, keterangan arti dari sebuah tindakan tertentu atau sebuah misteri
yang melingkupi hidup seseorang, dan juga merupakan sebuah penjelasan mengenai
tindakan atau perilaku dalam hidupnya.
Biografi dapat bercerita mengenai kehidupan seorang tokoh
penting atau terkenal maupun tidak terkenal. Biografi seringkali bercerita
mengenai tokoh sejarah, tetapi tak jarang juga mengenai orang yang masih hidup.
Banyak biografi sekarang ini yang ditulis secara kronologis. Biografi
membutuhkan bahan bahan utama serta bahan pendukung. Bahan utama dapat berupa
benda-benda, misalnya buku harian, surat surat, kliping koran, dan sebagainya.
Bahan pendukung biasanya berupa biografi lain, buku referensi, sejarah yang
memaparkan peranan orang dalam biografi tersebut dan sebagainya. Biografi
adalah suatu kisah atau keterangan dari perjalanan kehidupan seseorang yang
bersumber pada subjek rekaan atau kisah nyata.
CIRI-CIRI TEKS BIOGRAFI
Berikut ciri-ciri biografi:
1. Biografi memiliki struktur yang
terdiri atas : orientasi, peristiwa atau masalah, serta reorientasi.
2. Biografi memuat berdasarkan
informasi fakta serta disajikan dalam bentuk narasi.
3. Faktualnya (fakta) berdasarkan
pengalaman hidup seseorang yang diceritakan dalam tokoh biografi tersebut.
Empat hal yang harus dicermati dalam teks biografi,
yaitu:
1. Judul biografi
2. Hal yang menarik serta mengesankan
yang ditampilkan dalam kehidupan tokoh yang diceritakan
3. Hal yang mengagumkan serta
mengharukan yang muncul dalam kehidupan tokoh yang diceritakan
4. Hal yang dapat dicontoh atau
diteladani dari kehidupan tokoh
STRUKTUR BIOGRAFI
Berikut struktur teks biografi yang terdiri dari orientasi, peristiwa dan masalah, reorientasi:
1. Orientasi
Orientasi merupakan bagian dimana menjelaskan tentang pengenalan tokoh, berisi gambaran awal tentang tokoh yang diceritakan dalam biografi tersebut.
2. Peristiwa dan Masalah
Bagian peristiwa atau kejadian merupakan bagian yang berisi tentang sebuah peristiwa atau kejadian yang pernah dialami, termasuk didalamnya memuat tentang masalah yang pernah dihadapinya dalam mencapai tujuan serta cita-citanya. Hal-hal yang menarik, mengagumkan, mengesankan, dan mengharukan yang pernah dialami tokoh juga diuraikan dalam bagian ini.
3. Reorientasi
Reorientasi merupakan bagian penutup. Bagian ini berisi tentang pandangan penulis terhadap tokoh yang diceritakan tersebut. Reorientasi bersifat opsional, yang artinya pada bagian ini boleh ada atau tidak.
Diposting oleh
Unknown
di
18.57
0
komentar
Senin, 05 Februari 2018
Link download BSE Bahasa Indonesia X SMK K-13 Revisi
https://drive.google.com/file/d/1ZW1Y5Ig_KxWOSdP8BlnauYbSFxeBQP6E/view?usp=sharing
Diposting oleh
Unknown
di
18.02
0
komentar
Tata Cara Debat dan Contohnya
https://www.youtube.com/watch?v=3SMxYKalAKY&t=12s
https://www.youtube.com/watch?v=AgFvPapaWHA
Diposting oleh
Unknown
di
17.18
0
komentar
Rabu, 04 Juni 2014
Case Study (Mei '14)
Kebimbangan
Menerpa Pengetahuan
Kini
masa PPL telah berjalan empat bulan. Hari-hari saya selama melaksanakan program
praktik ini dipenuhi dengan segala pengetahuan baru. Sebagian pengetahuan itu
saya dapatkan melalui kesalahan-kesalahan yang tanpa sadar saya lakukan baik
dalam kegiatan teaching maupun non-teaching. Di bulan ke-4 PPL ini tepatnya
pada bulan Mei, saya kembali melakukan kesalahan. Namun, kali ini bukan dalam
mengajar, tetapi dalam kegiatan tidak mengajar, yaitu di saat saya menyiapkan
bahan untuk evaluasi hasil di semester genap ini. Dari kesalahan yang saya
perbuat terkadang saya merasa bingung dan ragu apakah yang saya lakukan itu
suatu kesalahan atau bukan, karena fenomena yang saya jumpai selama PPL tidak
jarang berbeda dengan teori-teori yang saya pelajari di kuliah. Istilah lainnya
implementasi di lapangan tidak selalu sesuai dengan teori yang ada dan
terkadang pengetahuan yang saya dapatkan dari dosen, berbeda dengan apa yang
diajarkan oleh pamong saya. Contohnya saja pada kesalahan yang saya lakukan
ketika membuat soal ujian semester ini. Ada kesalahan yang memang saya paham
dan yakin bahwa ini adalah murni kesalahan saya, tetapi di lain sisi juga ada
sebuah kesalahan yang memang divonis langsung oleh pamong pada saya, tetapi
saya tidak yakin apakah hal tersebut memang salah. Berikut ini ilustrasinya.
Tepatnya
tanggal 22 Mei 2014 mendatang, para siswa kelas VII dan VIII akan mengikuti
ujian akhir atau ujian kenaikan kelas. Di saat ini pula saya mulai sibuk
menyiapkan bahan untuk dites pada para siswa guna mengukur tingkat pemahaman
mereka terhadap meteri yang selama ini saya ajarkan, sekaligus sebagai syarat
untuk kenaikan kelas. Soal sudah saya siapkan tiga minggu sebelum diadakannya
ujian tersebut. Soal-soal itu saya buat dengan berbekal pengetahuan yang saya
dapatkan dari bangku kuliah. Tidak hanya dari segi materi, tetapi dari mulai
menyusun soal hingga menentukan alternatif jawaban disertai dengan jawaban
pengecoh (karena soal berupa pilihan ganda) saya buat berdasarkan pemahaman dan
pengetahuan saya. Perkiraan saya terhadap soal yang saya buat itu sudah benar
dan sesuai karena saat soal-soal itu saya serahkan pada pamong, beliau tidak
berkomentar setelah melihat soal yang saya buat. Namun, ternyata praduga saya
salah. Saat beberapa dari soal-soal tersebut dites pada siswa sebagai ulangan
harian, pamong saya berkata bahwa
terdapat beberapa soal yang tidak semestinya diajukan untuk anak sekolah, yaitu
soal-soal yang terdapat kata “yang bukan”. Misalnya, “berikut ini yang bukan
ciri-ciri cerpen adalah”, beliau berkata seharusnya ketika membuat soal untuk
diuji pada anak-anak gunakan pertanyaan yang ‘sebenarnya’. Ada sekitar enam
dari lima puluh soal yang menggunakan kata “yang bukan” dan “kecuali”. Saya
menyadari mungkin memang terlalu banyak pertanyaan yang menjebak dari soal yang
saya buat dan itu merupakan suatu kesalahan. Namun, saya masih ragu dengan apa yang
dikatakan pamong saya bahwa soal-soal yang terdapat kata “yang bukan” dan
“kecuali” itu tidak boleh diberikan pada siswa. Pada kenyataannya sering saya
jumpai pertanyaan-pertanyaan yang menggunakan kata-kata tersebut di buku-buku
bahan ajar, tetapi sebaliknya pamong saya langsung mengatakan “tidak boleh
diberikan untuk anak sekolah”. Mungkin untuk yang satu ini perlu saya cari tahu
kembali dengan bertanya ke sumber lain atau memperbanyak membaca buku-buku yang
berkaitan dengan penyusunan soal atau mengenai evaluasi dalam pembelajaran.
Namun meskipun demikian, saya tetap bersyukur karena dengan adanya kebingungan
ini saya dapat lebih termotivasi dalam mencari tahu segala hal yang membuat
saya bimbang dan dengan diberikan tugas oleh pamong untuk membuat soal sebanyak
lima puluh soal, pengetahuan dan keterampilan menulis saya semakin terasah. Selain
itu juga terbesit rasa senang di hati karena dengan dilimpahkannya tugas
menyusun soal berarti pamong saya telah menyerahkan kepercayaannya pada saya
sebagai calon guru.
Diposting oleh
Unknown
di
06.17
0
komentar
Label: Artikel
Case Study (April '14)
Warna-Warni Karakter Siswa
Semakin
lama saya menjalani kegiatan pembelajaran di SMP Negeri 17 Banda Aceh, semakin
banyak pula pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan. Salah satu pengalaman
dan pelajaran yang saya dapatkan selama PPL adalah dari warna-warni tingkah
laku dan kehidupan para siswa. Setelah beberapa bulan saya mengajar di sekolah
tersebut, tingkah laku dan kehidupan setiap siswa semakin terlihat jelas.
Masing-masing dari tiap siswa memiliki kisah hidup yang khas. Karakter mereka
yang tampak di sekolah tak lain dan tak bukan terbentuk karena pendidikan dan
perhatian dari keluarga sebagai pendidikan informal. Memang benar, keluargalah
yang pertama membentuk kepribadian anak. Baik buruknya karakter anak karena
hasil ‘cetakan’ dari keluarganya. Hal tersebut telah saya jumpai selama menjadi
mahasiswa praktikan di SMPN 17.
Saya
mengajar di empat kelas dan keempat kelas itu adalah kelas
,
,
,
dan
.
Saat saya masih mengajar di bulan pertama, belum terlihat jelas perbedaan di
setiap kelas tersebut. Namun, ketika sudah memasuki bulan kedua semakin
terlihat perbedaan dari keempat kelas itu jika dilihat secara keseluruhan. Pertama,
ketika saya masuk di kelas
,
sebagian besar para siswa di kelas itu susah untuk diatur. Mereka tidak hanya
ribut di kelas tetapi juga mengganggu temannya, sontak temannya pun ikut
merespon gangguan dari temannya itu dan ketika diberi pertanyaan mereka hanya
menjawab secara asal-asalan. Saya sudah mencoba membimbing mereka, tetapi
mereka terbimbing hanya beberapa saat dan kemudian kembali melakukan kesalahan,
bahkan guru pamong saya pun mengakui bahwa kelas itu adalah kelas yang sangat
sulit diatur. Kedua, saat saya mengajar di kelas
,
kelas ini tampak berbeda dari kelas
,
saya sebut kelas ini adalah kelas yang ‘sunyi’. Di kelas ini sebagian besar
siswa hanya duduk pasif. Hanya satu atau dua orang yang aktif dalam
pembelajaran dan siswa yang aktif pun hanya itu-itu saja. Hal yang positif dari
kelas ini adalah di saat saya menjelaskan materi, mereka membisu tanpa suara
bak orang yang budiman. Namun, sisi negatifnya adalah ketika saya memberi
kesempatan untuk bertanya atau mengajukan pertanyaan, tak ada yang mau
menjawab. Ketika saya paksa mereka untuk menjawab, baru ada satu siswa yang mau
membuka mulut untuk menjawab. Terkadang saya bingung bagaimana cara memancing
mereka untuk bisa aktif dalam pembelajaran sebab berbagai cara sudah saya
lakukan tetapi tetap tidak ada hasil. Ketiga, kelas
,
nah, kelas ini tidak berbeda jauh dengan kelas
.
Bedanya jika di kelas
sebagian besar siswa tidak bisa merespon
pertanyaan dan tanggapan dengan baik, tetapi setengah siswa di kelas
ini aktif dalam pembelajaran. Kelas ini
terkenal sebagai kelas paling ribut. Baik di saat menyimak pembelajaran maupun
saat mengerjakan tugas, tak henti-hentinya mereka mengeluarkan suara. Namun,
meskipun demikian banyak di antara mereka yang aktif selama pembelajaran
berlangsung. Keempat, kelas
,
kelas ini adalah kelas yang paling saya suka. Para siswa di kelas
tidak hanya patuh, tetapi juga cepat dan giat
serta aktif dalam pembelajaran. Hanya sebagian kecil saja yang pasif. Namun,
hal negatifnya adalah ketika ada siswa yang merasa terganggu dengan temannya, mereka
bisa saja saling memukul meski ada guru di depan mereka. Bahkan saat saya baru
beberapa hari mengajar di kelas itu, saya sudah melihat tontonan kekerasan
antarmereka dan hingga sekarang saya sudah menyaksikan dua kali ‘adegan’
kekerasan di kelas tersebut. Ketika saya lerai pun mereka bahkan tetap
berperilaku emosioanal.
Berbeda
kelas, berbeda suasana dan perasaan. Itulah yang saya rasakan selama menjadi
guru PPL. Selain kelas yang memiliki keunikan tersendiri juga terdapat
siswa-siswa yang unik. Bahkan kisah hidup mereka ada yang menyentuh hati dan
membuat saya bisa mengerti dengan kelakuan-kelakuan mereka di sekolah. Ada
siswa yang keluarganya broken home, ayahnya
entah dimana begitu juga dengan ibunya. Dia hanya diasuh oleh neneknya. Ada
pula siswa yang diperlakukan tidak layak oleh ayah tirinya. Ia dilarang pulang
ke rumah hanya karena terlambat mengantarkan kue dagangan orang tuanya. Lalu
ada juga seorang siswa yang ternyata selama ini tidak dirawat oleh ibu
kandungnya. Ia dibesarkan tanpa ayah dan ibu kandung sebab ayah kandungnya
sendiri yang memberikan dia kepada orang lain yang kini menjadi ibu angkatnya
dan masih banyak lagi perjalanan kehidupan siswa-siswa lainnya yang menggugah
hati. Karena hal-hal tersebutlah sekarang saya lebih mengerti mengapa mereka berkelakuan
buruk di sekolah, mengapa mereka terkadang bersikap manja, dan mengapa mereka
membuat kesenangan sendiri di sekolah. Mereka mencoba menyembunyikan perasaan
sedih mereka dengan tawa dan senyuman. Semua itu mereka lakukan karena mereka
menginginkan perhatian, kasih sayang, dan mereka mencoba menghibur diri sendiri
saat bersama teman-temannya berharap mendapatkan kepuasan hati meski hanya di
lingkungan sekolah.
Diposting oleh
Unknown
di
06.16
0
komentar
Label: Artikel
Case Study (Maret '14)
Belajar
dari Kesalahan
Tak
terasa sebulan sudah saya menjalani kegiatan mengajar di SMP Negeri 17 Banda
Aceh, terutama di kelas VII. SMP Negeri 17 sudah mulai menerapkan kurikulum
baru, yaitu kurikulum 2013 dan tentunya penerapan itu dilakukan di kelas VII.
Kurikulum 2013 tidak lagi menggunakan standar kompetensi, tetapi menggunakan
kompetensi inti.
Kompetensi
inti mencakup religius (KI1), sosial (KI2), pengetahuan (KI3), dan keterampilan
(KI4). Seluruh kompetensi inti tersebut harus diimplementasikan dalam
pengajaran. Namun, dalam realitanya saya masih sering mengabaikan sebagian
kompetensi tersebut. Dalam proses pembelajaran, KI1 yaitu religius sering saya
abaikan, padahal KI pertamalah yang harus diutamakan dalam pembelajaran guna
pengarahan moral dan pembentukan sikap dan akhlak para siswa. Saya menyadari
bahwa sistem saya mengajar tidak jauh berbeda seperti sistem pengajaran KTSP.
Saya masih belum terbiasa dengan pembelajaran kurikulum 2013, mengingat saat
saya mengikuti mata kuliah pengajaran masih menggunakan KTSP karena belum
adanya kurikulum baru. Hanya saat menjalani micro
teaching, kami mulai memahami kurikulum baru ini. Mungkin karena hal
tersebut saya masih kaku dalam menerapkan kurikulum 2013. Namun, saya akan
terus membiasakan untuk menerapkan kurikulum baru tersebut, sebab kita bisa
melakukan sesuatu karena telah terbiasa, seperti peribahasa yang mengatakan
‘alah bisa karena biasa’.
Tidak
hanya dalam penerapan kurikulum 2013, tetapi dalam mengajar saya masih belum
sepenuhnya mengikuti jalur rencana pembelajaran yang sudah saya buat. Memang,
RPP itu hanyalah sebuah rencana. Dalam penerapannya belum tentu kita bisa
mengikuti seluruh perencanaan, semua disesuaikan dengan situasi dan kondisi
saat pembelajaran berlangsung. Namun, pada langkah awal seperti pemberian
motivasi dan apersepsi dan langkah akhir seperti refleksi, pemberian tugas, dan
menyimpulkan pembelajaran, mesti dilakukan dalam mengajar, tetapi saat saya
mengajar, di akhir pembelajaran saya tidak memberikan kesimpulan karena
penyakit lupa ini selalu hinggap di pikiran. Hal tersebut merupakan kesalahan
dari sebagian kesalahan yang telah saya lakukan selama mengajar.
Selain
mengajar, tugas seorang guru juga melakukan evaluasi sebagai penilaian akhir
kemampuan siswa selama mengikuti pembelajaran. Dalam evaluasi penilaian
dilakukan sesuai dengan prosedur, yaitu ketika menilai jawaban ujian siswa,
terlebih dahulu harus menentukan skor di setiap pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan. Saat ujian tengah semester, saya ditugaskan oleh guru pamong untuk
membuat soal-soal yang akan diujikan pada siswa. Kesalahan saya adalah sebelum
dan sesudah soal-soal itu dibuat, saya tidak menentukan skor di tiap
pertanyaan. Bahkan saat memeriksa dan menilai jawaban para siswa pun saya lakukan
tanpa menggunakan skor yang pasti dan jelas. Penilaian yang saya berikan hanya
sebatas ‘kira-kira’ tanpa ditentukan oleh skor yang harusnya sudah saya
tentukan ketika membuat soal tersebut, sehingga ada sebagian siswa yang
menganggap saya tidak adil dalam memberi nilai sebab nilai siswa tersebut lebih
rendah daripada temannya yang jumlah benar dan salahnya sama seperti siswa itu.
Sejak saat itu, setiap saya menilai tugas para siswa, terlebih dahulu saya
tentukan skor di setiap pertanyaan dalam tugas tersebut agar penilaian lebih
terarah dan tidak ada lagi siswa yang memvonis saya sebagai seorang guru yang
tidak adil. Namun meskipun demikian, tidak ada rasa benci dan marah di hati
saya ketika siswa mengkritik saya, karena melalui merekalah saya bisa belajar
menjadi guru yang sepatutnya.
Diposting oleh
Unknown
di
06.15
0
komentar
Label: Artikel
Langganan:
Postingan (Atom)