Jumat, 05 April 2013

Pengantar Manajemen Pendidikan



Manajemen Pendidikan

Konsep manajemen
1.  Menurut Harold Koontz & Hein Weirich (1988:4), Manajemen adalah proses mendesain dan memelihara lingkungan dimana orang-orang bekerja bersama dalam kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu secara efisien.
2.  George R.Terry (kamus Manajement :290), Manajemen adalah pencapaian sesuatu tujuan yang telah ditentukan sebelumnya melalui usaha-usaha orang lain.
3.  Joseph L. Massie (1983):4), Manajemen diartikan sebagai kelompok khusus orang-orang yang tugasnya mengarahkan daya upaya dan aktivitas orang lain pada sasaran yang sama.
4.  M. H. Meschon. M. Albert & F. Khedouri (Stoner: 1992 :7), Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian upaya anggota organisasi dan proses semua lain-lain sumber daya organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
5. Sondang Siagian (Soebagio Atmodiwirjo, 2000:4), Manajemen adalah suatu proses untuk menyelesaikan sesuatu melalui orang lain.
        Dari berbagai pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengendalian dan pengawasan sumber daya manusia atau sumber daya lainnya terhadap suatu kegiatan atau organisasi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Konsep manajemen pendidikan
1. Menurut Syarif (1976:7) manajemen pendidikan adalah segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber (personil maupun materiil) secara efektif dan efisien untuk menunjang tercapainya pendidikan.
2.    Menurut Purwanto dan Djojopranoto (1981:14), manajemen pendidikan merupakan suatu usaha bersama yang dilakukan untuk mendayagunakan semua sumber daya baik manusia, uang, bahan dan peralatan serta metode untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
3.    Menurut Made Pidarta, (1988:4). Manajemen Pendidikan adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya.
4. Menurut Biro Perencanaan Depdikbud, (1993:4). Manajemen pendidikan ialah proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan.
5.   Menurut Hadari Nawawi (1981: 11) : Manajemen pendidikan adalah rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan pendidikan, secara berencana dan sistematis yang diselenggarakan di lingkungan tertentu, terutama lembaga pendidikan formal.
      Jadi, dapat disimpulkan bahwa manajemen pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan atau pengendalian segala sumber daya dan tenaga kependidikan yang dilakukan secara terencana, sistematis, efektif, dan efisien dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Tujuan mempelajari manajemen pendidikan
1. Menurut Chairul Effendi, tujuan pokok mempelajari manajemen pendidikan adalah untuk memperoleh cara, teknik, metode yang digunakan sebaik-baiknya sehingga sumber-sumber yang terbatas (seperti: tenaga, biaya dll) dapat dimanfaatkan secra efektif, efesien dan produktif untuk mencapai tujuan pendidikan.
2.      Menurut P. Siagian, tujuan guru mempelajari manajemen pendidikan, yaitu:


  • Mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif, inofatif, kreatif, efektif,         menyenangkan dan bermakna
  • Menciptakan peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.


  • Memenuhi salah satu dari 4 (empat) kopetensi tenaga kependidikan serta tertunjangnya kopetensi manajerial tenaga kependidikan sebagai manajer.


  • Mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
  • Membekali tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan (tertunjangnya profesi sebagai manajer atau konsultan manajemen pendidikan).


        Maka dapat kita disimpulkan bahwa tujuan mempelajari manajemen pendidikan adalah agar calon guru nantinya memiliki kompetensi menjadi seorang menejer yang ahli di kelasnya  (memiliki kompetensi menejerial kependidikan) sehingga dapat merencanakan, mengorganisasikan, menyusun, mengendalikan, serta mengawasi jalannya berbagai kegiatan pembelajaran dalam pencapaian tujuan yang efektif, efisien, dan produktif.
Unsur-unsur Manajemen Pendidikan
Menurut Harrington Emerson dalam Phiffner John F. dan Presthus Robert V. manajemen mempunyai lima unsur (M), yaitu :
1. Men
2. Money
3. Materials
4. Machines, and
5. Methods.
Peterson O.F., member of Indiana Univercity memasukkan unsur mesin ke dalam material dan metode diberi istilah the use sehingga katanya, "Managements is the use of man, money and materials to achieve a common goal".
Ada lagi seorang ahli bernama Mooney James D., ia memasukkan unsur-unsur uang, material dan mesin ke dalam istilah yang disebut fasilitas sehingga unsur-unsur manajemen adalah:
1. Men
2. Facilities
3. Methode

Sedangkan menurut George R. Terry dalam bukunya Principle of Management mengatakan, ada enam unsur-unsur  pokok dari manajemen, yaitu :
1)      men, tenaga kerja manusia, baik tenaga kerja eksekutif maupun operatif
2)      money, uang yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan
3)      methods, cara-cara yang dipergunakan dalam mencapai tujuan
4)      materials, bahan-bahan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan,
5)      machines, mesin-mesin atau alat-alat yang diperlukan/dipergunakan untuk mencapai tujuan
6)      markets, pasar untuk menjual output dan jasa-jasa yang dihasilkan.

Ada pula yang mengatakan bahwa unsure-unsure manajemen pendidikan meliputi:
1)      Anak didik : pihak yang menjadi obyek utama pendidikan
2)      Pendidik : pihak yang menjadi subyek dari pelaksanaan pendidikan
3)      Materi : bahan atau pengalaman belajar yang disusun menjadi kurikulum
4)      Alat pendidikan: tindakan yang menjdi kelamgsungan mendidik
5)      Lingkumgan : keadaan yang berbengaruh terhadap hasil pendidikan
6)  Dasar dan landasan pendidikan : landasan yang menjadi fundamental dari segala kegiatn pendidikan.
Dari berbagai pandangan para ahli di atas menunjukkan manusia merupakan unsur manajemen yang pokok. Manusia tidak dapat disamakan dengan benda, ia mempunyai peranan, pikiran, harapan serta gagasan. Reaksi psikisnya terhadap keadaan sekeliling dapat menimbulkan pengaruh yang lebih jauh dan mendalam serta sukar untuk diperhitung secara seksama. Oleh karena itu, manusia perlu senantiasa diperhatikan untuk dikembangkan ke arah yang positif sesuai dengan martabat dan kepribadiannya sebagai manusia.

Prinsip-Prinsip Manajemen Pendidikan
Douglas (1963:13-17) merumuskan prinsip-prinsip manajemen pendidikan sebagai berikut :
1.      Memprioritaskan tujuan di atas kepentingan pribadi dan kepentingan mekanisme kerja.
2.      Mengkoordinasikan wewenang dan tanggung jawab
3.      Memberikan tanggung jawab pada personil sekolah hendaknya sesuai dengan sifat-sifat dan kemampuannya
4.      Mengenal secara baik faktor-faktor psikologis manusia
5.      Relativitas nilai-nilai
Drucker (1954) melalui MBO (management by objective) memberikan gagasan prinsip manajemen berdasarkan sasaran sebagai suatu pendekatan dalam perencanaan. Penerapan pada manajemen pendidikan adalah bahwa kepala dinas memimpin tim yang beranggotakan unsur pejabat dan fungsional dinas, dan lebih baik terapat stakeholders untuk merumuskan visi, misi dan obadanya jektif dinas pendidikan.
Pada tingkat sekolah, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, siswa, orang tua siswa, masyarakat dan stakeholders duduk bersama membahas rencana strategis sekolah dengan mengembangkan tujuh langkah MBO yaitu:
1.      Menentukan hasil akhir apa yang ingin dicapai sekolah
2.      Menganalisis apakah hasil akhir itu berkaitan dengan tujuan sekolah
3.      Berunding menetapkan sasaran-sasaran yang dibutuhkan
4.      Menetapkan kegiatan apa yang tepat untuk mencapai sasaran
5.      Menyusun tugas-tugas untuk mempermudah mencapai sasaran
6.      Menentukan batas-batas pekerjaan dan jenis pengarahan yang akan dipergunakan oleh atasan
7.      Lakukan monitoring dan buat laporan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip manajemen pendidikan adalah sebagai berikut.
·         Adanya tujuan yang ingin dicapai
·         Adanya pembagian kerja
·         Adanya wewenang dan tanggung jawab
·         Adanya ketertiban dan kedisiplinan
·         Adanya kejujuran dan semangat kerja
·         Adanya kerja sama
·         Mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi
·         Adanya pemimpin (kesatuan arahan)


Makna Manajemen Pendidikan
1.  Manajemen pendidikan mempunyai pengertian kerjasama untuk mencapa tujuan pendidikan. Seperti kita ketahui, tujuan pendidikan itu merentang daru tujuan yang sederhana sampai dengan tujuan yang kompleks, tergantung lingkup dan tingkat pengertian pendidikan mana yang dimaksud.
2.     Manajemen pendidikan mengandung pengertian proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses itu dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian.
a.       Perencanaan
Meliputi kegiatan menetapkan apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, berapa lama, berapa orang yang diperlukan dan berapa banyak biayanya. Perencanaan itu dibuat sebelum suatu tindakan dilaksanakan.
b.      Pengorganisasian
Diartikan sebagai kegiatan membagi tugas – tugas kepada orang yang terlibat kerjasama pendidikan tadi. Karena tugas yang demikian banyak dan tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, maka tugas – tugas dibagi untuk dikerjakan masing – masing anggota organisasi.
c.       Pengkoordinasian
Mengandung makna menjaga agra tugas – tugas yang telah dibagi itu dapat dikerjakan menurut kehendak yang mengerjakannya saja, tetapi menurut aturan sehingga menyumbang terhadap pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dan disepakati.
d.      Pengarahan
Pengarahan diperlukan agar kegiatan yang dilakukan bersama itu tetap melalui jalur yang telah ditetapkan, tidak terjadi penyimpangan yang dapat menimbulkan terjadinya pemborosan.
e.       Pemantauan
Yaitu suatu kegiatan untuk mengumpulkan data dalam usaha mengetahui sudah sampai seberapa jauh kegiatan pendidikan yang telah mencapai tujuannya, dan kesulitan apa yang ditemui dalam pelaksanaan itu. Dengan perkataan lain, kegiatan pemantauan atau monitoring adalah kegiatan untuk mengumpulkan data tentang penyelenggaraan suatu proses pencapaian tujuan.

Sabtu, 22 Desember 2012

Analisis Kalimat Analitis, Kontradiktif, dan Sintetis dalam Wacana

Kalimat Analitis, Kontradiktif, dan Sintetis

BAB 1
Pendahuluan

1.1    Latar Belakang Masalah
Di dalam masyarakat, kata bahasa sering dipergunakan dalam berbagai konteks dengan berbagai macam makna. Ada orang yang berbicara tentang “bahasa warna”, tentang “bahasa bunga”, “bahasa diplomasi”, dll. Linguistik adalah ilmu yang khusus mempelajari ‘bahasa’, yang dimaksudkan dengan bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.
Sebagai ilmu kajian bahasa, linguistik memiliki berbagai cabang ilmu, antara lain: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Fonologi merupakan cabang linguistik yang mengkaji seluk-beluk bunyi bahasa. Morfologi merupakan cabang linguistik yang mengkaji seluk-beluk morfem dan penggabungannya. Sintaksis merupakan cabang linguistik yang mengkaji penggabungan satuan-satuan lingual berupa kata yang dapat membentuk satuan kebahasaan lebih besar, seperti: frase, klausa, kalimat, dan wacana. Semantik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna satuan-satuan lingual, baik makna leksikal maupun gramatikal. Sedangkan pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji struktur bahasa secara eksternal, yakni penggunaan satuan kebahasaan dalam komunikasi. Pragmatik adalah aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan pada makna ujaran (Aslinda dan Leni, 2007: 12). Di dalam pragmatik, terbagi lagi beberapa jenis kalimat atau tuturan dan di dalam makalah ini akan dijelaskan tiga jenis kalimat yaitu kalimat analitis, kontradiktif, dan sintetis.

1.2    Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan kalimat analitis, kontradiktif,  dan sintetis?
2.      Apa perbedaan antara analitis dan sintetis?
3.      bagaimana contoh-contoh kalimat analitis, kontradiktif, dan sintetis?



BAB 2
Pembahasan

1.1    Kalimat Analitis
Menurut Dewa (1989: 41), Kalimat analitis adalah kalimat yang kebenarannya terletak pada kata-kata yang menyusunnya. Hubungan antara konsep-konsep dalam kalimat analitis saling menutupi. Contoh “bujang adalah status orang yang tidak kawin” atau “kucing adalah binatang” adalah kalimat analitis (Parera, 2004: 191). Sementara itu menurut kamus Bahasa Indonesia (Budiono, 2005: 42), analitis berarti bersifat (menurut) yang sebenarnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kalimat pernyataan yang bersifat analitis ialah kalimat yang di dalamnya terkandung kebenaran yang  dan berlaku dimana-mana. Berarti kalimat itu mengandung kebenaran unsur-unsur pembentuknya.
Kalimat (1), (2), (3) berikut adalah kalimat yang mengandung kebenaran analitis (analytical truth).
1.      Sepeda motor adalah alat transportasi.
2.      Buaya adalah binatang berkaki empat.
3.      Rumah adalah tempat tinggal.
(Informasi indeksal: kalimat tersebut merupakan suatu definitif yang menyatakan kebenaran makna kata yang menyusun kalimat tersebut)
Kalimat (1), (2), dan (3) benar bukan karena kenyataannya memang demikian, tetapi karena di dalam bahasa Indonesia kata sepeda, buaya, dan rumah secara berturut-turut bermakna “alat transportasi”, “sebangsa binatang berkaki empat”, dan “tempat tinggal”. Kebenaran kalimat (1), (2), dan (3) tidak perlu diverifikasi secara empiris dengan pengetahuan yang bersifat ekstralingualistik. Oleh karenanya kebenaran ketiga kalimat terseebut dinamakan kebenaran linguistik (linguistic truth).
Perbedaan kalimat analitik dan kalimat pragmatik
Ada perbedaan antara kalimat analitik dan pragmatik, yaitu kalimat analitik kebenarannya ditentukan oleh kalimat yang menyusunnya, sedangkan kalimat pragmatik adalah kalimat yang dipengaruhi kebenarannya oleh aspek di luar bahasa.
Contoh kalimat:
1.      Kasur adalah tempat untuk tidur (kalimat analitik)
2.      Gelas adalah alat untuk minum (kalimat analitik)
Contoh teks percakapan dalam bentuk kalimat pragmatik
3.      A : kayaknya udara panas, ya! 
B : kenapa?
A : ayo ke warung sebelah, beli es.
B : wah, pekerjaanku belum selesai. Duluan saja.

1.2    Kalimat Kontradiktif
Kata di atas berasal dari bahasa inggris “contradict” yang berarti menyangkal atau membantah. Kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kontradiksi sebagai kata benda atau noun yang berarti pertentangan antara dua hal yang sangat berlawanan. Kata “contradict” sendiri mempunyai bentuk adjektiva dalam bahas inggris, yakni “contradictive” yang diserap utuh ke bahasa Indonesia menjadi “kontradiktif”. Dalam ilmu linguistik, kontradiksi adalah hal tidak benarnya makna suatu unsur dalam keadaan apapun (Harimurti, 2001: 121)
Kalimat kontradiktif adalah kalimat yang kebenarannya bertentangan dengan makna kata-kata yang menyusunnya (Dewa, 1989: 42). Sedangkan menurut Habiba (2012), Kalimat kontradiktif adalah kalimat yang salah karena maknanya bertentangan dengan kata-kata yang digunakan.
Contoh:
·         Mata adalah indra pendengar.
·         Ayam binatang mamalia.
·         Boing adalah alat angkutan darat.
Informasi indeksal: susunan kalimat tersebut di atas merupakan kalimat definitif yang menyatakan ketidakbenaran makna kata yang menyusunnya.
Ketidakbenaran kalimat kontradiktif disebut ketidakbenaran linguistik (linguistic falsities) karena ketidakbenarannya didasarkan pada kenyataan bahasa bersangkutan, bukan kenyataan yang terdapat di luar bahasa.
1.3    Kalimat Sintetis
Kalimat Sintesis Adalah kalimat yang kebenarannya didasarkan pada hasil observasi dan pengamatan. Menurut Dewa (1989: 42), kalimat sintetis adalah kalimat yang kebenarannya bergantung pada fakta-fakta luar bahasa.
Contoh Kalimat Sintetis
a.       Semua orang kikir harus dikasihani. 
b.      Semua orang jawa pintar.
c.       Makhluk Tuhan pasti beriman.
d.      Teman dekat saya memelihara kucing anggora.
Untuk menentukan kalimat analitis dan sintesis harus mendefinisikan dahulu kata kunci dari sebuah kalimat.
Kalimat sintetis terbagi menjadi dua yaitu:
1.      Sintetis positif, apabila kalimat yang menyusunnya sesuai dengan fakta.
2.      Sintetis negatif. apabila kalimat yang disebut tidak sesuai dengan fakta yang menyusunnya.
 Contoh:
·         Taman Sari terletak di Darussalam. (sintetis negatif)
·         Chairil Anwar adalah sastrawan angkatan ’45. (sintetis positif)
Informasi indeksal: pada kalimat pertama, faktanya tidak sesuai dengan kenyataan, maka dari itu disebut sintetis negatif. Sedangkan kalimat ke dua, sesuai dengan fakta yang menyusunnya, maka dari itu disebut sintetis positif.
Perbedaan kalimat Analitis dan Sintetis
Kalimat pernyataan yang bersifat analitis ialah kalimat yang di dalamnya terkandung kebenaran yang  dan berlaku dimana-mana. Berarti kalimat itu mengandung kebenaran unsur-unsur pembentuknya. Sedangkan kalimat sintetis adalah kalimat yang kebenarannya didasarkan pada hasil observasi dan pengamatan. Contoh “semua orang bujang senang” merupakan kalimat sintetis karena pernyataan dalam kalimat itu tidak mengandung kebenaran yang bersifat umum. Kebenaran pernyataan tersebut hanya berlaku di dunia tertentu dan waktu tertentu berdasarkan hasil pengamatan dan observasi. Perhatikan kalimat di bawah ini.

1.      Semua orang yang kikir adalah orang yang pelit.
2.      Semua orang yang kikir adalah orang kaya.
3.      Semua orang kikir patut dikasihani.
Untuk dapat menentukan dan menjawab mana di antara tiga kalimat di atas bersifat analitis dan sintetis, maka yang harus di tentukan terlebih dahulu ialah definisi kikir. Apakah pengertian kikir meliputi pelit, kaya, patut dikasihani.Semua orang akan menerima bahwa kalimat (1) adalah kalimat analitis dan kalimat (2) dan (3) adalah kalimat sintesis.
Dapat di katakan sebuah proposisi yang berupa kalimat berita bersifat analitis jika kebenarannya ditentukan oleh dan hanya oleh bentuknya yang logis dan makna dari unsur-unsur komponennya. Sebuah proposisi itu bersifat analitis jika kebenarannya berlaku di seluruh dunia atau di berbagai dunia. Sebuah proposisi yang sintetis dapat benar dan salah karena kebenaran dan kesalahannya ditentukan oleh fakta yang terjadi secara kebetulan dan tidak dapat ditentukan hanya oleh analitisnya yang logis. Di dalam penulisan ilmiah perlu diperhatikan pernyataan yang bersifat analitis dan pernyataan yang bersifat sintetis.




BAB 3
Analisis

Analisis kalimat analitis, kontradiktif, dan sintetis dalam wacana                          

Kakek dan Nenek yang Suka Menolong
Pada suatu hari di sebuah desa ada sebuah gubuk kecil yang ditempati oleh seorang kakek dan nenek yang miskin, meskipun begitu mereka sangat suka menolong.
Pada siang harinya nenek berkata kepada kakek,
"Kek, hari ini kita hanya bisa makan semangkuk bubur dan air putih."
"Yah, apa boleh buat inilah rezeki kita," sahut kakek.
Dan saat mau memakan bubur tersebut ada suara ketukan pintu, dan setelah dibuka ternyata ada seorang peminta sedekah, kakek pun kasihan melihatnya lalu diberikannyalah semangkuk bubur tadi dan pada saat itu kakek dan nenek hanya bisa meminum air putih.
Pada keesokan harinya, kakek dan nenek pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dengan uang tabungan kakek dan nenek, kemudian kakek dan nenek melihat seorang gadis yang sedang dimaki-maki oleh seorang penjual sayur karena telah memberantakkan dagangannya. Lalu kakek mendekat dan memisahkan keduanya dan juga mengganti dagangan si penjual sayur dengan uang yang tadinya ingin dibelikan kebutuhan, gadis itu berterima kasih dan pergi.
Pada hari esok saat kakek ingin membakar kayu bakar, ada suara ketukan pintu, dan saat dibuka itu adalah gadis yang mereka tolong kemarin dan bersama seorang pria yang sudah menjadi suaminya. Ternyata suaminya itu adalah seorang pangeran di desa itu, dan sejak saat itu kakek dan nenek diangkat menjadi orang tua angkat, dan saat itu nenek dan kakek tidak hidup miskin lagi dan lebih suka menolong.


·         Pada suatu hari, di sebuah desa ada sebuah gubuk kecil yang ditempati oleh seorang kakek dan nenek yang miskin.
ð  Termasuk kalimat sintetis, karena kalimat tersebut bergantung pada fakta-fakta di luar bahasa (sesuai dengan keadaan yang terjadi).
·         Meskipun begitu mereka sangat suka menolong.
ð  Termasuk dalam kalimat sintesis, karena kalimat tersebut bergantung pada fakta-fakta luar bahasa.
·         Pada siang harinya nenek berkata kepada kakek, “Kek , hari ini kita hanya bisa makan semangkuk bubur dan air putih."
ð  Termasuk kalimat sintetis, karena penyusunan kalimat tersebut didasarkan atas fakta-fakta yang terjadi.
·         Kita hanya bisa makan semangkuk bubur dan air putih.
ð  Termasuk kalimat analitis, sebab dalam bahasa Indonesia bubur dan air putih adalah jenis makanan dan minuman yang dapat dikonsumsi manusia.
·         "Yah , apa boleh buat inilah rezeki kita, " sahut kakek.
ð  Temasuk dalam kalimat sintesis, karena kalimat tersebut didasarkan pada keadaan atau fakta-fakta yang sebenarnya (di luar bahasa).
·         Dan saat mau memakan bubur tersebut ada suara ketukan pintu, dan setelah dibuka ternyata ada seorang peminta sedekah.
ð  Termasuk kalimat sintetis, sebab kalimat tersebut sesuai dengan keadaan atau situasi saat itu.
·         Kakek pun kasihan melihatnya lalu diberikannyalah semangkuk bubur tadi dan pada saat itu kakek dan nenek hanya bisa meminum  air  putih.
ð  Termasuk kalimat sintetis, karena kalimat tersebut bergantung pada fakta-fakta yang terjadi (di luar bahasa).
·         Pada keesokan harinya, kakek dan nenek pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan dengan uang tabungan kakek dan nenek.
Kalimat tersebut terdiri kalimat sintetis dan analitis, yaitu pada kalimat:
o   Pada keesokan harinya, kakek dan nenek pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan.
ð  Termasuk kalimat sintetis karena kebenaran pada kalimat di atas bergantung pada fakta-fakta yang terjadi (di luar bahasa).
o   Membeli kebutuhan dengan uang tabungan.
ð  Termasuk kalimat analitis karena, dalam bahasa Indonesia uang mempunyai makna ‘alat pembayaran’.
·         Kakek dan nenek melihat seorang gadis yang sedang dimaki-maki oleh seorang penjual sayur karena telah memberantakkan dagangannya.
ð  Termasuk kalimat sintetis, karena kalimat tersebut disusun berdasarkan fakta-fakta yang ada di luar bahasa.
·         Kakek mendekat dan memisahkan keduanya dan juga mengganti dagangan si penjual sayur dengan uang yang tadinya ingin dibelikan kebutuhan, gadis itu berterima kasih dan pergi.
ð  Termasuk kalimat sintetis karena kalimat tersebut sesuai dengan keadaan yang terjadi di tempat itu.
·         Pada hari esok saat kakek ingin membakar kayu bakar, ada suara ketukan pintu, dan saat dibuka itu adalah gadis yang mereka tolong kemarin dan bersama seorang pria yang sudah menjadi suaminya.
ð  Termasuk kalimat sintetis karena kalimat tersebut disusun berdasarkan kejadian yang terjadi di tempat itu.
·         Ternyata suaminya itu adalah seorang pangeran di desa itu, dan sejak saat itu kakek dan nenek diangkat menjadi orang tua angkat, dan saat itu nenek dan kakek tidak hidup miskin lagi dan lebih suka menolong.
ð  Termasuk kalimat sintetis karena kalimat tersebut disusun berdasarkan fakta-fakta yang ada di luar bahasa.




BAB 4
Penutup

4.2   Kesimpulan
·        Kalimat analitis adalah kalimat yang kebenarannya terletak pada kata-kata yang digunakan. Contoh: Pensil adalah alat tulis; Rumah adalah tempat tinggal.
·         Kalimat kontradiktif adalah kalimat yang salah karena maknanya bertentangan dengan kata-kata yang digunakan. Contoh: Ayam binatang mamalia. Boing adalah alat angkutan darat.
·         Kalimat sintesis adalah kalimat yang kebenarannya tergantung pada fakta-fakta luar bahasa. Contoh: Tetangga saya memelihara burung kakatua.
·         Ada perbedaan antara kalimat analitik dan pragmatik, yaitu kalimat analitik kebenarannya ditentukan oleh kalimat yang menyusunnya, sedangkan kalimat pragmatik adalah kalimat yang dipengaruhi kebenarannya oleh aspek di luar bahasa.

4.1  Saran
Kalimat tutur/ ujaran merupakan hal yang sangat penting bagi kita karena dengan perantaraan kalimat tersebut seseorang dapat mengungkapkan maksudnya dengan lengkap dan jelas baik itu lewat tulisan maupun lisan. Kami berharap agar pembaca tidak hanya menekankan pemahaman dan penggunaan kalimat dari segi teoritis (tentang tata bahasa) saja namun juga dari segi komunikatif/ujaran (keterampilan berbahasa), serta memahami makna dari setiap ujaran yang keluar baik ujaran yang berdasarkan konteks, maupun yang berdasarkan ilmu linguistik.




Daftar Pustaka

Aslinda dan Leni. 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: PT Refika Aditama
Budiono. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Agung
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Parera, 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga
Putu Wijaya. 1989. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: ANDI